Sebuah Perkenalan

Sebuah perkenalan tidak menjamin seseorang memahami satu sama lain, namun dengan berkenalan dapat menjamin diri kita untuk membangun silaturrahim meski hanya melalui senyuman dan sapaan.

-Silmy Kaffah R-

Assalamu’alaikum warohmatullah..

Pekenalkan, nama saya Silmy Kaffah R. Semua sahabat-sahabat saya memanggil saya Silmy, dan sebagian yang lain memanggil saya Kaffah. Akan tetapi keluarga saya memanggil saya Mil. Ini ada sejarahnya, selain karena saudara-saudaraku waktu kecil sulit memanggilku “Sil” dan berubah menjadi “Mil”. Panggilan itu sangat bersejarah untuk saya, apalagi panggilan itu menjadi paten dari almarhum paman saya sejak saya masih sangat belia.

Saat ini saya kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin, S1 jurusan Tafsir Hadist. Mungkin masih banyak yang bertanya-tanya mengapa saya mengambil jurusan Tafsir Hadist, sedangkan saya dulunya bukan anak pesantren dan mengambil jurusan IPA di sekolah menengah. Bahkan saya sempat kuliah di salah satu universitas ternama jurusan Farmasi selama 1 tahun (2 semester), namun saya memilih banting setir dan pindah jurusan Tafsir hadist. Heran? Saya juga..

Alhamdulillah, tanggal 1 Mei 2017 Allah mengizinkan saya untuk menikah. Dengan berbagai proses yang dilalui, akhirnya saya pun menikah dengan Hammad Rosyadi. Kalau kalian bertanya apakah saya sudah mengenalnya sebelumnya? Jawabannya, belum. Namun dengan segala proses yang terjalin dengan baik, mulai dari ta’aruf, istikharah, dan khitbah, akad pun terlaksana.

Hammad Rosyadi – Silmy Kaffah

Sebelum mengenal saya, banyak sekali orang mengatakan kalau saya cool (?), jutek, misterius, mager pake banget, dan lain sebagainya. Ada juga yang mengatakan kalau saya itu pendiam, kalem, lembut, dan lain-lain. Tapi tak sedikit orang (yang sudah mengenal saya) juga mengatakan saya termasuk orang yang usilnya Maasyaa Allah, apa adanya, blak-blakkan, ngocol (?), asik, dan lain sejenisnya. Jujur, saya sendiri tidak tahu orang seperti apa saya ini. Hanya saja, saya tergantung dengan siapa saya bertemu. Kalau ke suami bagaimana? Hehehe, tentu hidup lebih berwarna.. (nggak nyambung)

Sebisa mungkin saya ingin orang lain merasa nyaman dengan kehadiran saya, di mana pun, kapan pun, dalam keadaan apapun. Ketika mereka bahagia, saya pun ikut bahagia. Ketika mereka sedih, saya ingin menjadi bahu untuk mereka bersandar. Ketika mereka butuh tempat curhat, dengan sepenuh hati saya akan menjadi pendengar yang baik.

Selain sebagai mahasiswi dan istri, saya juga seorang penulis. Saat ini buku pertama saya berjudul Jangan Jadi Manusia Gampangan, Jadilah Manusia Limited Edition terbitan Quanta telah dijual di Gramedia seluruh Indonesia. Semoga Allah memberikan manfaat dan keberkahan.

Jadilah Manusia Limited Edition
Buku – Jangan Jadi Manusia Gampangan

Dan tak sedikit buku antologi yang saya buat bersama teman-teman, seperti halnya Life is Never Flat (Marsua Media), Kalau Cinta Jangan Nanggung (Lingkar Publishing), Tuhan, Maaf, Aku Belum Siap Berhijab (Marsua Media), YaAllah, Aku Ingin Curhat (Marsua Media), Walau Jomblo Tetap Produktif (Quanta), Surat untuk Ayah dan Ibu (Quanta), From Baper To Super (PKW Publishing).

Salah satu pesan guru saya, “Menulis jangan untuk diri sendiri, namun menulislah untuk ummat”. Semoga Allah selalu menjaga niat kita dalam segala hal, termasuk saya dalam dunia kepenulisan. Aamiin Yaa Mujibassaailiin..

 

Silmy Kaffah R.